Update Film • Komunitas • Info Nonton • Medan
Home About Contact
Breaking
Sang Raja Pop Resmi Kembali!

Sang Raja Pop Resmi Kembali!

 filmmedan.id, 24 Januari 2026, 00:41 WIB


Immanuel Prasetya Gintings
Tim Redaksi


MEDAN, filmmedan.id 
– Kalau ada satu hal yang sanggup membuat internet sejenak berhenti bernapas dan melakukan "Moonwalk" massal, jawabannya sudah pasti berkaitan dengan sang Raja Pop, Michael Jackson. Di era di mana atensi kita cuma seharga satu kali scroll, trailer perdana untuk biopik Michael datang dan langsung menggebrak meja dengan angka yang terdengar tidak masuk akal: 116,2 juta views global hanya dalam tempo 24 jam. Ini bukan sekadar angka statistik biasa, tapi sebuah pernyataan keras bahwa "hype" untuk MJ masih hidup dan menyala, bahkan angka fantastis ini resmi mencatatkan rekor baru sebagai peluncuran trailer biopik musik terbesar sepanjang sejarah, sekaligus menjadi launch 24 jam paling brutal yang pernah dicatat oleh Lionsgate menurut data WaveMetrix, membuat filmmedan yakin bahwa ini bukan lagi sekadar promosi film, melainkan sebuah peristiwa budaya pop yang wajib kita antisipasi.

Tentu saja, filmmedan paham kalau views di YouTube tidak serta-merta bisa ditukar dengan tiket bioskop, tapi dalam ekosistem marketing Hollywood, ledakan atensi di 24 jam pertama adalah detak jantung yang menentukan segalanya, dan jika sebuah teaser saja mampu memancing ratusan juta orang untuk menonton—bahkan mungkin menekan tombol replay berkali-kali demi melihat kilasan kostum ikonik dan panggung megah itu—bayangkan kegilaan macam apa yang akan terjadi saat full trailer, poster resmi, hingga soundtrack nostalgianya benar-benar dilepas ke publik. Daya tarik magis ini rupanya bersumber dari satu "senjata rahasia" yang sukses bikin bulu kuduk merinding, yaitu keputusan casting yang brilian dengan menunjuk Jaafar Jackson, keponakan kandung MJ sekaligus putra Jermaine Jackson, untuk menghidupkan kembali sosok pamannya dalam debut layar lebar yang sangat dipertaruhkan ini.

Kenapa filmmedan menyebutnya "dipertaruhkan"? Karena biopik musik adalah "kuburan" bagi aktor yang hanya bermodal wajah mirip tapi gagal menangkap jiwa sang bintang, namun Jaafar membawa DNA asli yang membuat gesture, ritme tubuh, hingga aura panggungnya terasa begitu natural dan "nendang," seolah-olah kita sedang melihat reinkarnasi sang legenda yang siap memamerkan momen-momen emas mulai dari era Thriller hingga kemegahan konser stadium yang tak terlupakan.

Di balik layar, tim yang meracik film ini juga bukan pemain amatiran yang bisa dipandang sebelah mata, karena kursi sutradara diduduki oleh Antoine Fuqua yang terkenal dengan gaya visualnya yang intens dan sinematik, didukung oleh naskah tajam dari John Logan serta tangan dingin produser Graham King—sosok yang sukses besar dengan Bohemian Rhapsody—bersama John Branca dan John McClain, menciptakan sebuah kombinasi maut yang menjamin film ini bukan sekadar parade lagu karaoke, melainkan sebuah biografi layar lebar yang serius dan mendalam. Keseriusan ini makin terasa saat kita melihat deretan supporting cast yang solid, mulai dari pemenang Oscar Colman Domingo yang memerankan sang patriark Joe Jackson, Nia Long sebagai ibunda Katherine Jackson, Miles Teller sebagai pengacara John Branca, hingga Kat Graham yang menjelma menjadi Diana Ross dan aktor cilik Juliano Krue Valdi sebagai Michael muda, ditambah kehadiran karakter figur industri legendaris seperti Quincy Jones yang diperankan Kendrick Sampson, menjadikan ansambel ini terasa sangat "mahal."

Satu hal yang pasti, filmmedan melihat Michael tidak hanya akan menjadi panggung nostalgia, tetapi juga sebuah arena debat yang panas karena film ini berani menyentuh dua sisi mata uang dari mitologi MJ: panggungnya yang ikonik dan kehidupan pribadinya yang penuh "bagian-bagian rumit" serta perdebatan tak berujung. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa film ini akan menelusuri perjalanan panjang dari era Jackson 5 hingga puncak superstardom, namun tetap memancing rasa penasaran publik tentang seberapa jauh narasi ini akan menyelami kontroversi sang bintang, apalagi sempat terdengar kabar adanya penyesuaian pengambilan gambar karena pertimbangan legal yang membuat proses produksinya semakin menarik untuk disimak.


Jadi, siapkan diri kalian karena film ini dijadwalkan tayang di bioskop Amerika Serikat via Lionsgate dan pasar internasional lewat Universal Pictures pada 24 April 2026, lengkap dengan format IMAX yang siap memanjakan mata dan telinga. Bottom line versi filmmedan sangat sederhana: angka 116,2 juta views itu adalah sinyal bahwa dunia sudah siap menyambut, menguji, dan merayakan kembali sang legenda, menjadikan Michael calon tontonan raksasa yang bakal mendominasi obrolan kita dari timeline media sosial hingga antrean tiket bioskop nanti.

Baca selengkapnya
Avatar: Fire and Ash Pandora Makin Gelap, dan Itu Menarik

Avatar: Fire and Ash Pandora Makin Gelap, dan Itu Menarik

 filmmedan.id, 5 Januari 2026, 22:06 WIB


Immanuel Prasetya Gintings
Tim Redaksi




MEDAN, filmmedan.id – FilmMedan masuk ke bioskop untuk menonton Avatar: Fire and Ash dengan niat sederhana: sekadar "cuci mata" melihat keindahan Pandora dan menikmati ledakan mahal khas James Cameron. Dan ya, film ini memang menyajikan itu semua. Tapi yang menempel di kepala FilmMedan saat keluar bioskop bukan cuma visualnya, melainkan nadanya yang berubah drastis. Lupakan Pandora yang damai; dunia ini sekarang suram, keluarga Sully bergerak membawa duka, dan atmosfernya jauh lebih mencekam.

Rilis 19 Desember 2025 dengan durasi gila-gilaan—3 jam 12 menit—film ini jelas bukan tontonan buat kau yang punya rentang fokus (atau kapasitas kandung kemih) pas-pasan. Kau harus siap duduk manis dan berkomitmen penuh.

Secara garis besar, narasinya langsung tancap gas dari The Way of Water. Jake dan Neytiri masih berdarah-darah menanggung kehilangan Neteyam, sementara Quaritch dan konco-konconya masih jadi ancaman yang menyebalkan. Namun, kartu as sesungguhnya di sini adalah kemunculan klan baru: Ash People atau Mangkwan yang dipimpin oleh Varang. Jika Na’vi biasanya identik dengan harmoni alam yang "zen", klan ini adalah antitesisnya. Mereka digambarkan keras, brutal, dan membawa energi "api dan abu" yang destruktif.

Bagi FilmMedan, kehadiran mereka adalah penyegar yang krusial. Konfliknya jadi tidak sesederhana "manusia jahat lawan alien baik". Pandora jadi terasa lebih luas, rumit, dan politis.

Bicara soal visual, tidak perlu diragukan. Ini masih standar emas sinema dunia. Bahkan Rotten Tomatoes sepakat bahwa film ini tetap berada di puncak rantai makanan untuk urusan efek visual. Tapi harus diakui, kritik terbesarnya valid: ceritanya seolah jalan di tempat dan mengulang pola lama.

Ulasan dari The Verge ada benarnya: tontonan ini spektakuler, tapi ide barunya terasa tipis. Durasi tiga jam itu bisa terasa menyiksa kalau kau berharap ada lonjakan narasi yang signifikan dibanding film kedua. FilmMedan juga paham kenapa film ini memecah belah opini. Ada kritik pedas, seperti dari The Guardian, yang bilang film ini megah tapi kosong—sulit menemukan ikatan emosi yang benar-benar "kena".

Di sisi lain, tidak sedikit yang menganggap ini peningkatan, terutama karena karakter Spider yang jadi pusat gravitasi drama. Hasilnya? Skor Rotten Tomatoes jadi bukti perpecahan itu: kritikus agak pelit dengan 66% (Tomatometer), tapi penonton justru loyal dengan skor 90% (Popcornmeter). Dan jelas, pasar tidak bohong. Reuters melaporkan film ini sudah melibas angka US$1 miliar secara global di awal Januari 2026. Uang berbicara, kawan.

Kesimpulan FilmMedan: Fire and Ash mungkin bukan film yang revolusioner secara cerita, dan formulanya mulai terasa usang. Tapi kalau kau ke bioskop untuk mencari pengalaman audio-visual yang total—dan kau punya nyali melihat sisi Pandora yang lebih gelap, kasar, dan tidak nyaman—film ini tetap wajib kau buru. Siapkan saja mental (dan fisik) untuk durasinya.

Baca selengkapnya
Review Film Animasi 100 Meters

Review Film Animasi 100 Meters

 filmmedan.id, 5 Januari 2026, 21:40 WIB


Immanuel Prasetya Gintings
Tim Redaksi



MEDAN, filmmedan.id  FilmMedan baru saja menamatkan 100 Meters (ひゃくえむ。/ Hyakuemu.). Kalau dilihat sekilas, premis film ini terasa "kecil"—cuma soal lari 100 meter. Apa menariknya? Tapi jangan salah, dampaknya luar biasa. Diadaptasi dari manga karya Uoto dan disutradarai Kenji Iwaisawa, film yang sekarang sudah tersedia di Netflix ini membuktikan satu hal: kau tidak butuh ledakan gedung untuk memacu adrenalin. Cukup lintasan lari dan ego laki-laki yang terbakar habis-habisan.

Ceritanya fokus pada Togashi, bocah yang terlahir dengan bakat lari di atas rata-rata; baginya, menang adalah rutinitas, bukan hasil kerja keras. Namun, kenyamanannya terusik oleh Komiya, murid pindahan yang teknik larinya berantakan tapi punya mental baja. Togashi, dengan naifnya, mengajari Komiya, tanpa sadar bahwa dia sedang membentuk rival yang kelak akan menghantuinya bertahun-tahun. FilmMedan melihat ini bukan sekadar film olahraga, tapi sebuah studi karakter. Ini tentang ego, harga diri, dan ketakutan mendasar seorang pria saat menyadari dia bukan lagi satu-satunya yang terhebat.

Poin paling kuat di sini adalah visualnya. Lupakan klise anime olahraga yang penuh montage dramatis dan teriakan persahabatan yang cengeng. Di sini, setiap sprint terasa mentah dan fisik. Napas yang memburu, otot yang menegang, ritme langkah yang menghantam tanah—semuanya terasa nyata. Para kritikus menyorot penggunaan teknik rotoscoping (merekam gerak aktor asli lalu dijadikan animasi) oleh studio Rock ’n’ Roll Mountain, dan FilmMedan setuju: hasilnya adalah pergerakan yang dinamis, tajam, dan punya nuansa dokumenter yang hidup.

Urusan audio, proyek ini digarap serius. Musik latar dari Hiroaki Tsutsumi bekerja efektif menjaga ketegangan tanpa harus mendikte emosi penonton secara murahan. Ditambah lagi, lagu tema "Rashisa" dari Official Hige Dandism menutup film dengan elegan—emosional, tapi tidak berlebihan.

Tentu, FilmMedan sadar narasinya tidak sempurna. Seperti yang disebut beberapa ulasan di Rotten Tomatoes, alurnya kadang terasa terlalu lempeng dan kurang basa-basi. FilmMedan sepakat; dramanya memang langsung menghantam ke inti masalah. Tapi justru di situ kekuatannya. Konflik Togashi–Komiya disajikan secara telanjang dan jujur. Ini bukan soal siapa yang paling cepat sampai finis, tapi siapa yang punya nyali berdamai dengan diri sendiri saat kalah.

Kesimpulan FilmMedan: 100 Meters bukan tontonan buat mereka yang cari hiburan kartun ringan. Ini tontonan buat kau yang punya rival, pernah merasa iri, atau terobsesi menjadi "lebih". Saat adegan larinya memuncak, FilmMedan rasanya ikut terseret ke lintasan dengan satu pertanyaan yang menohok: kalau hidup cuma ditentukan dalam sprint 10 detik, kau berlari untuk apa?

Baca selengkapnya
Yayasan Sinema Manuprojectpro Indonesia Kembali Menyapa di filmmedan.id

Yayasan Sinema Manuprojectpro Indonesia Kembali Menyapa di filmmedan.id

filmmedan.id, 3 Januari 2026, 13:00 WIB

Immanuel Prasetya Gintings
Tim Redaksi

MEDAN, filmmedan.id  Awal tahun 2026 ini, kami memutuskan untuk “pulang”.

Rumah digital kami, FilmMedan.id, akhirnya kembali dibuka pintunya lebar-lebar. Setelah cukup lama senyap—di mana jejak digital terakhir kami terhenti pada artikel Hari Film Nasional, 1 April 2023—Yayasan Sinema Manuprojectpro Indonesia hadir lagi. Kami kembali untuk merapikan jejak, menyambung kabar yang sempat terputus, dan yang paling penting: melanjutkan kerja-kerja ekosistem perfilman Medan dan Sumatera Utara dengan ritme yang lebih konsisten.

Mungkin ada yang bertanya, "Kenapa harus repot mengurus website lagi? Bukankah media sosial lebih cepat?"

Benar, media sosial itu cepat dan riuh. Tapi bagi kami, website adalah sebuah rekam jejak yang tenang. Ini adalah tempat menaruh pengumuman resmi, dokumentasi program, catatan kolaborasi, dan liputan ekosistem film yang bisa diakses kapan saja tanpa harus takut tenggelam ditelan algoritma. Kami ingin menjadikan filmmedan.id bukan sekadar papan pengumuman, tapi sebagai arsip yang rapi dan rujukan yang bisa dipercaya.

Apa yang Terlewat Selama Kami "Hiatus"? (2023–2025)

Meskipun website ini sempat tertidur, percayalah, dapur pacu perfilman Medan tidak pernah berhenti berasap. Dinamika terus berjalan, bahkan pembicaraan tentang standar industri makin tajam.

Sebagai upaya merawat ingatan, berikut adalah beberapa catatan penting dari masa "hiatus" yang perlahan akan kami arsipkan secara lengkap di sini:

  1. Denyut Ekosistem yang Terus Bergerak Salah satu bukti paling nyata adalah gelaran Medan Film Festival (MFF) Vol. 2 pada 23 November 2024 di Taman Budaya Medan. Festival ini menjadi penanda kuat bahwa ruang temu, layar pemutaran, dan diskusi film di kota ini terus bertumbuh, tidak peduli seberapa sunyi pemberitaan di luaran.
  2. Fokus Serius pada Penguatan SDM Kami menyadari bahwa film bukan cuma soal memegang kamera. Pada 14 April 2025, komunitas film Medan duduk bersama dalam audiensi dengan BBPVP Medan. Fokusnya sangat spesifik: merancang pelatihan vokasi untuk lighting, sound system, makeup character, hingga mencetak produser yang paham SOP produksi. Ini adalah langkah valid untuk menaikkan standar kerja, bukan sekadar hobi.
  3. Konteks Nasional dan Kajian Akademik Kerja-kerja di Medan tidak berdiri sendiri. Di level nasional, perhelatan FFI 2024 dan 2025 tetap menjadi barometer yang kami jadikan acuan standar. Menariknya, pada tahun 2024, Yayasan Sinema Manuprojectpro Indonesia juga menjadi objek penelitian skripsi akademik (tercatat di repositori Unimal), yang mengkaji komunikasi sutradara dan kinerja kru kami. Ini menjadi pengingat bagi kami: setiap karya dan proses produksi memiliki nilai edukasi yang harus dipertanggungjawabkan.

Wajah Baru FilmMedan.id di 2026

Mulai hari ini, kami berkomitmen menghidupkan kembali kanal ini dengan lebih tertata. Apa yang bisa teman-teman nantikan?

  • Kabar Ekosistem: Berita seputar festival, komunitas, ruang belajar, dan pemutaran film di Medan–Sumut.
  • Program Resmi Yayasan: Info valid mengenai kelas, workshop, kolaborasi terbuka, dan agenda produksi.
  • Ruang Arsip: Dokumentasi foto, catatan proses, dan kredit bagi pihak-pihak yang terlibat, agar kerja keras teman-teman tidak hilang ditelan waktu.

Penutup

Terima kasih untuk teman-teman komunitas, sineas, dan penikmat film yang tetap percaya, tetap bekerja, dan tetap menjaga nyala layar—bahkan ketika kanal ini sempat sunyi (walau Instagram kami tetap aktif menyapa kalian).

Tahun 2026 ini, kita mulai lagi. Pelan-pelan, rapi-rapi, tapi serius.

Karena bagi kami, ekosistem tidak dibangun hanya dari satu karya viral semata, melainkan dari kebiasaan yang tekun: belajar, berjejaring, produksi, evaluasi, lalu bertumbuh bersama.

Selamat datang kembali di rumah.

Salam hangat, Yayasan Sinema Manuprojectpro Indonesia

Baca selengkapnya
HARI FILM NASIONAL: MEDAN KOTA FILM, KAPAN LAGI?
Update

HARI FILM NASIONAL: MEDAN KOTA FILM, KAPAN LAGI?


Medan – Filmmedan -
Dalam rangka memperingati Hari Film Nasional 30 Maret 2023 dilakukan kegiatan Screening & Discussion yaitu dengan menonton tiga film serta diskusi bersama para sutradara serta perwakilan DPRD dan perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Utara yang berada di Aula YPPIA, Jalan Dr Mansyur III No.1. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 50 penonton yang terdiri dari masyarakat umum, pelajar, dan mahasiswa.  film yang ditonton yaitu Sungai Ular, Memutar Limbah Peradaban dan Demi. Film “Sungai Ular” berdurasi 90 menit yang digarap pada tahun 1961 dan disutradarai Jacob Harahap. Kedua, film documenter “Memutar Limbah Peradaban” dengan durasi 28 menit, dan yang terakhir menayangkan film pendek “Demi” dengan durasi 17 menit.

Film dokumenter Memutar Limbah Peradaban disutradarai oleh Andi Hutagalung dengan lokasi syuting di TPA Marelan. Film ini bercerita tentang pengolahan sampah plastik untuk didaur ulang sehingga dapat mengurangi jumlah sampah plastik di Kota Medan. Film ini juga memotivasi masyarakat untuk memilah sampah plastik agar dapat didaur ulang dengan menggunakan teknologi yang dapat menghasilkan uang. Dalam diskusi setelah menonton film ini, para penonton diharapkan lebih sadar akan lingkungan dan pentingnya memilah sampah. Namun, pemerintah masih kurang peduli dalam memfasilitasi mesin yang dapat menghancurkan plastik. 



Film yang ditonton berjudul Demi, film pendek yang disutradarai oleh Ori Semloko Sembiring dengan lokasi syuting di Tembung. Dan Penulis Naskah yang ditulis oleh Dr. Immanuel Prasetya Ginting, M.Hum dan Yesika Natalina Sidabutar, S.S. Film ini bercerita tentang keluarga yang bertahan di masa pandemi karena ayahnya terkena COVID-19. Dalam diskusi setelah menonton film, para penonton menyatakan film ini dapat memberikan pengalaman dan perspektif baru tentang bagaimana keluarga dapat bertahan di masa pandemi.

Diskusi yang diadakan setelah menonton kedua film diatas membahas tema "Medan Kota Film. Kapan Lagi?" dan diikuti oleh beberapa narasumber yaitu Daniel Irawan (Kritikus Film), Viza Vandhana, S.E (Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), Afif Abdillah, S.E. (Komisi III DPRD), Andi Hutagalung (Filmmaker) dan Ressy Dwiana Tarigan (Dosen UMA). Dalam diskusi tersebut, Pak Fizal menyatakan bahwa pemerintah mendukung industri perfilman di Kota Medan dan akan mendukung kreativitas anak muda termasuk di bidang perfilman.



Bapak Hafif menyatakan bahwa DPRD mendukung anggaran untuk film lokal Medan dan siap memperjuangkan anggaran serta aturan-aturan untuk meningkatkan kreativitas di bidang perfilman. Komisi III DPRD juga mendukung acara MIFFest (Medan Internasional Film Festival) 2023 yang akan datang di bulan Juni. Ori Semloko, sebagai Direktur Festival, mengungkapkan bahwa MIFFest2023 akan menjadi sebuah festival film yang menampilkan film-film berkualitas dari sineas Sumut maupun Internasional untuk dinikmati oleh masyarakat Kota Medan, khususnya karena festival tersebut akan diselenggarakan di ibu kota Provinsi Sumatera Utara.

Sementara itu, Pak Daniel menyatakan bahwa potensi Kota Medan untuk industri film cukup besar meskipun jarak waktu yang cukup lama terpisah dengan masa kejayaan film Medan di masa lalu serta kurangnya SDM dan peralatan yang memadai tetapi tidak menutup kemungkinan industri film di Medan masih dapat berkembang ke arah yang lebih baik lagi. Adapun diskusi dengan Ibu Ressy Dwiana mengenai film yaitu perbandingan antara film lokal medan dengan film Korea serta menceritakan perkembangan film Korea hingga sukses sekarang yang dapat memotivasi untuk membuat film lokal menjadi sukses. Kegiatan screening film ini diharapkan dapat memotivasi para penonton dan masyarakat Kota Medan untuk lebih menghargai industri perfilman dan memajukan perfilman di Kota Medan.

Dengan terselengarakannya kegiatan seperti ini, diharapkan dapat meningkatkan kualitas film lokal sumatera utara dan memberikan motivasi serta dukungan bagi sineas-sineas muda untuk terus berkarya. Bukan hanya sebagai penikmat film saja namun menjadi bagian dari pembuatan film. Semoga dimasa depan, film-film lokal Sumatera Utara semakin lebih dikenal oleh masyarakat Medan.

Baca selengkapnya
Langkah-Langkah Menemukan Bahasa Sinema: Panduan Semiolinguistik Struktural
Update

Langkah-Langkah Menemukan Bahasa Sinema: Panduan Semiolinguistik Struktural



Sinema merupakan media yang menyajikan gambar figuratif dalam bentuk objek-objek fotografis yang dekat dengan kehidupan manusia. Menurut semiotik, gambar gerak figuratif dapat disebut tanda tingkat pertama, sedangkan tanda tingkat keduanya terdapat pada gerakan gambar itu sendiri. Namun, untuk memahami strategi naratif dalam sinema, diperlukan pemilihan yang cermat mengenai apa yang menjadi prioritas semiotik dalam naratif.

Pluralitas material yang terdapat dalam sinema naratif bersifat heterogen dan mampu memproduksi beragam tanda yang berbeda. Tanda-tanda tersebut terbagi dalam tiga kelas utama, yaitu tanda ikonik, tanda linguistik, dan tanda musikal.

Setelah sinema diperkenalkan sebagai suatu kreasi artistik di Prancis setelah Perang Dunia II, terdapat usaha untuk membangun paramasastra sinema (grammaires du cinéma) untuk memahami sinema seni yang bergantung pada bahasa. Pendekatan ini sangat menekankan pada pembentukan paramasastra normatif. Melalui pendekatan estetika normatif ini, bahasa sinema tidak dioposisikan dengan sistem bahasa, tetapi justru beroposisi dengan sastra. Pendekatan model ini memberikan daftar panjang hal-hal yang harus dihindari dan kesalahan-kesalahan fatal yang tidak boleh dilakukan agar sutradara tidak terlalu sembrono dalam mencetak efek stilistika khusus.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami sinema sebagai bahasa adalah semiopragmatik, atau semio-linguistik, yang dikembangkan oleh Roger Odin. Pendekatan ini memandang film secara semiologis dengan pendekatan kebahasaan, dan bergantung pada linguistik struktural model Saussure. Pendekatan ini tidak memfokuskan pada penggunaan bahasa dalam sinema, melainkan lebih pada mekanisme bahasa dalam sinema.

Menurut pendekatan ini, hal-hal yang penting dalam sinema harus diuji terlebih dahulu mengenai relevansi semiolinguistiknya. Hal-hal yang tidak memiliki relevansi semiolinguistik, seperti masalah ekonomi, administrasi, teknologi, dan sosiologi publik, akan diabaikan. Semiopragmatik hanya membatasi objeknya pada keseluruhan film, dengan membedakan antara fakta sinematografis dan fakta filmis.

Fakta sinematografis adalah hal-hal yang terkait dengan film secara langsung, seperti sinematografi, musik, dan dialog. Fakta filmis adalah hal-hal yang tidak terkait dengan film secara langsung, seperti tempat, waktu, dan karakter. Pendekatan ini juga mengembangkan konsep sinema sebagai tanda, yang terdiri dari pesan, medium, dan konteks.

Halaman : 1 2 3



Baca selengkapnya
Sertifikasi Profesi Bisnis Digital di Dunia Perfilman: Mengapa Penting?
Update

Sertifikasi Profesi Bisnis Digital di Dunia Perfilman: Mengapa Penting?


Mungkin Anda pernah bertanya-tanya mengapa sertifikasi profesi begitu penting bagi para profesional di dunia perfilman. Apakah sekadar sebuah tanda keahlian yang hanya diakui oleh beberapa orang saja ataukah ada manfaat yang lebih luas bagi karier dan kemajuan industri perfilman secara keseluruhan?

Jawabannya adalah: sertifikasi profesi sangat penting bagi dunia perfilman. Dengan sertifikasi profesi, Anda dapat menunjukkan kepada dunia bahwa Anda memiliki kompetensi dan keahlian yang diakui secara resmi oleh lembaga sertifikasi terpercaya. Ini memberikan nilai tambah bagi Anda dalam mencari pekerjaan dan naik pangkat, serta meningkatkan kepercayaan klien atau rekan kerja terhadap kemampuan Anda.

Lembaga Sertifikasi Profesi Teknologi Digital (LSP TD) adalah salah satu lembaga yang diakui secara resmi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk melakukan proses sertifikasi di bidang teknologi dan informasi. LSP TD memiliki banyak program sertifikasi yang dapat membantu Anda memperluas pengetahuan dan keahlian di bidang Digital seperti: NETWORK, INFRASTRUCTURE, IOT AND SERVICES, SOFTWARE DEVELOPMENT AND DATA SCIENCE MULTIMEDIA AND OFFICE, PROJECT MANAGEMENT AND QUALITY, serta DIGITAL MARKETING AND IT FUNDAMENTAL

Jika Anda tertarik untuk memperoleh sertifikasi profesi di dunia teknologi dan informasi ini, kunjungi website LSP TD di lspdigital.iduntuk informasi lebih lanjut.
Halaman : 1 2 3

Baca selengkapnya
Program Sertifikasi Digital Marketing di LSP TD: Meningkatkan Kualitas Promosi dan Distribusi Produk Perfilman Anda
Update

Program Sertifikasi Digital Marketing di LSP TD: Meningkatkan Kualitas Promosi dan Distribusi Produk Perfilman Anda


Sertifikasi digital marketing di dunia perfilman adalah sebuah sertifikat yang diberikan kepada seseorang yang memiliki kompetensi yang terkait dengan digital marketing yang dapat digunakan dalam bidang perfilman. Melalui sertifikasi ini, seseorang dapat memperoleh pengakuan atas pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengelola dan mempromosikan produk perfilman melalui media digital.

Di era digital saat ini, digital marketing merupakan salah satu elemen yang sangat penting dalam ekosistem perfilman. Distribusi dan promosi produk perfilman yang efektif merupakan kunci keberhasilan sebuah produk perfilman. Dengan memahami bisnis digital dan menguasai teknik-teknik digital marketing, produsen perfilman dapat meningkatkan kualitas distribusi dan promosi produk perfilman, sehingga dapat meningkatkan minat penonton dan meningkatkan keuntungan produk tersebut.

Seorang produsen film yang telah mengikuti program sertifikasi digital marketing di dunia perfilman dapat memanfaatkan teknik-teknik digital marketing yang ia pelajari untuk mempromosikan film terbarunya. Misalnya, ia dapat menggunakan strategi SEO untuk meningkatkan peringkat filmnya di mesin pencari, menggunakan media sosial untuk membagikan trailer dan menciptakan buzz di kalangan penonton, atau menggunakan email marketing untuk mengirimkan pemberitahuan kepada para pelanggan tentang tanggal rilis film tersebut.

Selain itu, sertifikasi digital marketing juga dapat membantu produsen film dalam mengelola dan memanfaatkan media sosial dengan lebih baik. Misalnya, produsen film dapat membuat konten yang menarik dan terkait dengan filmnya di media sosial, serta mengelola interaksi dengan pengguna media sosial secara profesional.

Dengan demikian, sertifikasi digital marketing di dunia perfilman merupakan salah satu alat yang dapat membantu produsen film dalam mengelola dan mempromosikan produk perfilman melalui media digital dengan lebih efektif.Menjadi terlatih dalam digital marketing di bidang perfilman sangat penting karena di era digital saat ini, media digital merupakan salah satu cara terbaik untuk mempromosikan produk perfilman. Dengan menguasai teknik-teknik digital marketing yang tepat, produsen perfilman dapat meningkatkan jangkauan promosi produk perfilman dan meningkatkan minat penonton.

Selain itu, menjadi terlatih dalam digital marketing di bidang perfilman juga dapat membantu produsen perfilman dalam mengelola dan memanfaatkan media sosial dengan baik. Media sosial merupakan salah satu platform yang paling efektif untuk mempromosikan produk perfilman, sehingga produsen perfilman yang terlatih dalam digital marketing dapat memanfaatkan media sosial dengan lebih baik dan efektif.
Halaman : 1 2 3

Baca selengkapnya
Ngeri Ngeri Sedap (2022)
Update

Ngeri Ngeri Sedap (2022)

Review Ngeri Ngeri Sedap 



Medan, Film Medan - Sejak beberapa tahun terakhir, film bertema Batak tak henti-hentinya mencoba untuk merebut hati para penonton setia film Indonesia. Mulai dari Demi Ucok (2013), Mursala (2013), Bulan di Atas Kuburan (2015), Toba Dreams (2015), Lamaran (2015), Pariban: Idola dari Tanah Jawa (2019), dan terakhir Horas Amang: Tiga Bulan untuk Selamanya (2019). Akhirnya, setelah dua tahun pandemi, dan tutupnya bioskop Indonesia, Ngeri-Ngeri Sedap (NNS) hadir sebagai sebuah film Batak yang layak untuk dinanti selama ini. 

Berikut filmmedan tampilkan trailer filmnya.


Film ini menceritakan tentang Pak Domu dan Mak Domu yang tinggal bersama Sarma, ingin sekali tiga anaknya: Domu, Gabe dan Sahat yang sudah lama merantau pulang untuk menghadiri acara adat, tetapi mereka menolak pulang karena hubungan mereka tidak harmonis dengan Pak Domu.

Filmmedan akan membahas film ini secara rinci. Mulai dari produser filmnya, Angga Dwimas Sasongko. Siapa yang meragukan film-film produksinya semisal Filosofi Kopi (2015), Letters from Prague (2016), Love for Sale (2018) atau Ben & Jody (2022)? 

Dari sini saja, NNS ini sudah cukup menjanjikan (Plus, memang sejak Filosofi Kopi dan Love for Sale, filmmedan selalu menjadikan nama Angga Dwimas Sasongko sebagai salah satu producer yang layak ditunggu film-filmnya!). 

Plus, kehadiran Ricky Wijaya yang mulai mencatatkan namanya sebagai executive produser sejak Ben & Jody (2022). Jangan ketinggalan pula, film Satria Dewa: Gatotkaca (2022) dan Keluarga Cemara 2 (2022) yang juga masuk wishlist wajib nonton filmmedan di tahun ini.

Rumah produksi Imajinari menjadikan NNS sebagai film hasil produksinya yang ke dua setelah Teka Teki Tika (2021), bersanding dengan Kathanika Entertainment yang juga menjadikan film ini sebagai produksi kedua setelah Tali Mati (2021).

NNS sendiri awalnya sebenarnya adalah buku novel komedi pertama karya Bene Dionysius Rajagukguk yang diterbitkan tahun 2014 oleh Bukune. Novel ini adalah pengalaman pribadi Bene yang merantau jauh ke Jogja untuk menyelesaikan kuliah di UGM. Novel ini lebih banyak mengisahkan tentang Bene dan hubungannya dengan mamaknya. (Teringat tadi pas filmmedan berkesempatan diundang nonton, Bene sepertinya berencana mengundang mamaknya secara khusus datang dari Tebing Tinggi untuk nonton. Sayang mamak memang si Bene ini!) 

Lain ceritanya di dalam film, tokoh protagonis utamanya adalah Pak Domu (Arswendy Bening Swara Nasution). sosok suami dari Marlina/ Mak Domu (Tika Panggabean), yang tinggal di kampung Toba bersama anak perempuannya Sarma (Gita Bhebhita). Sementara tiga anak laki-lakinya: Domu (Boris Bokir) si sulung, Gabe (Lolox) anak ketiganya, dan Sahat (Indra Jegel), anak bungsunya. Penggambaran kehidupan pasangan Pak Domu dan istrinya di kampung, benar-benar tergambarkan apa adanya seperti halnya orangtua Batak yang punya anak-anak merantau lainnya. Goal dari Pak Domu di film ini adalah mendatangkan ketiga anak laki-lakinya untuk upacara adat sulang-sulang pahoppu Ompung Boru (Rita Matu Mona) yang mewajibkan semua cucunya hadir. 

Skenario filmnya yang sangat apik, lebih rapi dan matang dibandingkan karya Bene yang lain semisal Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 (2016), Part 2 (2017), Rafathar (2017), Suzzana: Buried Alive (2018), serta Ghost Writer (2019).  

Alur cerita NNS ini lebih rapi, padat dan solid serta bisa diterima secara logis sejak dari awal hingga akhir film. Konflik antar karakter dibangun kuat, dan titik klimaks film ini berhasil dihantarkan perlahan namun pasti, tidak terkesan janggal atau dipaksakan. Budaya dan adat Batak benar-benar menjadi "ruh" yang utama di sini, tidak seperti film-film Batak lain yang hadir sebelumnya, yang masih terasa hanya sebagai "tempelan" nilai jualan belaka. Ini alasan utama filmmedan merekomendasikan film. Karena toh, semua budaya dan adat tadi bisa tetap dipahami bahkan oleh penonton non-Batak sekalipun.



Dialog-dialog dalam film ini benar-benar rapi dan penting untuk disimak, bukan hanya didengar karena semuanya berhasil menarik perhatian penonton, alih-alih hanya jualan visual atau joke receh seperti film-film lain yang dibuat oleh standup comedian Indonesia. Semua kalimat bisa dianggap sebagai poda (nasehat) kepada penontonnya tanpa terasa menggurui. Mengalir begitu saja, dan melekat di kepala bahkan setelah selesai menontonnya.

Kalau pun ada bagian "All is lost" (mengutip format 15 story beats Blake Snyder) di film ini, maka bagian ini adalah bagian yang paling pecahnya. Sungguh, menitikkan air mata adalah sebuah kewajiban bagi anak Batak asli yang bisa relate dengan kehidupan keluarga di film ini. Bagian yang bikin air mata mengalir ini juga lah yang viral digadang-gadangkan oleh semua reviewer film ini, termasuk filmmedan sendiri.

Bagian yang paling tidak menarik bagi kami hanyalah adegan diskusi Pak Domu dan Mak Domu di atas ranjang kamar mereka, merencanakan sesuatu agar anak-anaknya mau pulang ke kampung, yang bagi kami terlalu lama dan mulai terasa membosankan sedikit karena memiliki dialog yang cukup panjang, dengan varian shot yang tidak bervarian, monoton begitu saja untuk beberapa menit.


Bene juga tampil sebagai sutradara di film yang ditulisnya ini, menerjemahkannya menjadi sebuah sebuah penceritaan audio visual yang lumayan apik. Kalau ditilik, bekal Bene untuk menjadi sutradara berasal dari film-film sebelumnya seperti Ghost Writer (2019), selain series Cek Toko Sebelah (2019), dan series Susah Sinyal (2021). 

Awalnya filmmedan membayangkan sepertinya NNS bakalan lebih mirip series di tangan Bene. Tetapi menit demi menit menonton NNS, feel bahwa ini adalah "film" benar terasa nyaman diikuti. Bene seolah paham benar bagaimana memvisualisasikan kisah Bapak Domu dan keluarganya ini secara visual. Filmnya menjadi terkesan tenang, tidak terburu-buru, mengalir dan tidak terlalu meloncat-loncat dari satu bagian ke bagian yang lainnya (walaupun flashback tetap saja dijadikan sebagai bagian dari model alur ceritanya. Ada apa sih sebenarnya dengan pola flashback di film-film drama keluarga Indonesia??).

Tergelitik untuk mencari tahu siapa pendamping Bene sebagai Assistant Directornya. Nama Cathy Catherine muncul di credit title. Setelah sebelumnya pernah menjabat tugas serupa di Cek Toko Sebelah (2016), Gila Lu Ndro (2018), dan Teka Teki Tika (2021), sepertinya di film ini, Cathy Catherine juga mampu mendampingi Bene dengan baik. Plus, Cathy juga pernah menulis skenario untuk film pendek Matchalatte (2018). Paling tidak, filmmedan tidak menemukan ada "tangan malaikat" lain di bagian penyutradaraan NNS ini. Bene harus diakui sebagai seorang sutradara yang (mudah-mudahan tetap akan) berkelas untuk jenis film drama komedi.

Di bagian cinematography, bang Padri Ucok Nadeak pegang kendali untuk memegang proses perekaman adegan demi adegan yang lumayan cantik untuk dinikmati. Tentu jangan pernah lupa shot panjang di scene UKS di film Dua Garis Biru (2019) hasil karya bang Ucok yang sempat heboh dibicarakan dan dijadikan referensi shot mantap di saat itu.

Nah, di NNS ini, bang Ucok kembali mempertunjukkan hal yang sama di adegan pemuncak yang menguras air mata penontonnya! Sebuah long take shot yang bergerak dari dapur sampai ke luar rumah plus "sulap" bayangan di cermin ruang tamu yang tidak menampilkan "bocor" kamera di bayangan cerminnya. Sebuah teknik sinematografi yang bikin filmmedan kagum! 


Kalau filmmedan emang sudah gak asing dengan hasil karya bang Ucok sejak Moammar Emka's Jakarta Undercover (2017), Sweet 20 (2017), Partikelir (2018), Orang Kaya Baru (2019) serta Hit & Run (2019). Konsep sinematografi NNS memang sih tidak lebih spektakuler dari film-film yang membutuhkan kreatifitas pengambilan gambarnya. Tapi, pengambilan gambar di beberapa adegan nampak cantik, walau di beberapa adegan malam, konsep pencahayaannya sedikit terlihat lebih gelap. 

Masih lebih terasa cantik Dua Garis Biru lah sedikit! Lagipula, kalau mengeksplor keindahan Danau Toba, memangnya mau pakai cara apa lagi? Itu adegan Lapo memang mau diapain lagi cinematografinya? Di mana-mana lapo tuak ya.. gelap! Jadi bisa lah dimaklumi.. masuk akal juga kok! Kalau untuk karya bang Ucok berikutnya yang masuk wishlist filmmedan adalah Balada si Roy (2022) yang saat ini kabarnya sudah masuk tahap post-production!

Tidak banyak yang perlu diceritakan di bagian sound film NNS. Syaifullah Praditya yang juga sebelumnya menggarap sound designer untuk Horas Amang: Tiga Bulan untuk Selamanya (2019) sepertinya sudah pernah berpengelaman bekerja untuk "film Batak" lainnya sebelum NNS. Paling tidak karyanya sebelumnya juga pernah filmmedan dengar di Iblis dalam Kandungan (2022). 

Khusus untuk sound designer ini tadinya filmmedan ingin menikmati suara-suara yang lebih realistis dari suasana di sekitar Danau Toba, atau suasana onan di Balige.  Sayang, suara-suara ambience yang membuat lebih nyata di scene-scene ini tidak tersajikan sesuai ekspektasi kami.


Bang Andhy Pulung Waluyo dengan Super 8mm studio-Jakarta miliknya sudah tidak asing lagi bagi kami. Di NNS ini, nama beliau muncul sebagai colorist, yang meyakinkan kami bahwa memang warna di NNS ini  tak kalah ciamiknya dibandingkan dengan Toba Dreams (2015) yang juga melibatkan bang Pulung sebagai penata gambarnya. Di NNS, hasil sentuhan warna di adegan jemput Mak Domu benar-benar cantik, tanpa menimbulkan kesan adegan flashback yang gitu-gitu aja selalu warnanya. Tapi lagi-lagi kami harus jujur bahwa karya bang Pulung yang masih terasa lebih memorable bagi kami sebagai colorist adalah Aach.. Aku Jatuh Cinta (2015) dibandingkan NNS ini. Entah kenapa!

Sosok Arswendy Bening Suara yang memerankan Pak Domu patut kami acungi jempol.  Karakter Amang Batak bermarga Purba yang tinggal di kampung, hormat dengan adat dan menjaga nama baik keluarga di mata orang lain, termasuk Amang Pandita Anggiat (Paulus Simangunsong) bisa diperankan dengan baik oleh beliau. 

Logat Batak yang selalu kami ributin tidak menjadi masalah saat dibawakan beliau. Itulah mengapa kami terkejut saat marga Nasution muncul di poster film NNS mengikuti nama Arswendy Bening Suara. Sayang memang, tidak ada kalimat bahasa Batak lengkap yang diucapkannya, bahkan di depan mamaknya sendiri pun! 

Filmmedan tadinya mengenal sosok Arswendy sebagai salah seorang "aktor favorit" Joko Anwar setelah sebelumnya muncul di semua film terkenal Joko Anwar semisal Pengabdi Setan (2017) sebagai Ustadz, Gundala (2019) sebagai Ferry Dani, dan Perempuan Tanah Jahanam (2019) sebagai Professor di atas bus. Setelah menonton film NNS, baru lah Filmmedan nyadar bahwa Arswendy juga sebenarnya mencantumkan marganya dia film-film sebelumnya semisal Night Bus (2017), A Man Called Ahok (2018), dan Habibie & Ainun 3 (2019). Kami benar-benar nggak nyadar loh! Sungguh!


Pemeran lain yang mencolok bagi filmmedan adalah Gita Bhebita Butar-Butar yang sukses memerankan Sarma. Kami tak mengira bahwa Gita mampu mengekspresikan karakter Sarma seperti dalam film ini. Gita yang biasanya selalu ceria di depan layar, dalam film ini juga sama seperti pemeran lainnya, sepertinya mampu menampilkan sosok yang berbeda, justru lebih nyata seperti gadis Batak pada umumnya. Kekuatan para pemeran yang asli Batak dalam memerankan karakter Batak di film ini memang benar-benar menjadi magnet yang mampu menyita perhatian penonton di sepanjang film. Sarma salah satunya. Kehadiran Sarma sangat penting dalam membangun emosi di beberapa bagian film. Apresiasi khusus untuk penampilan Gita di NNS ini! 

Ada juga Boris Bokir yang memerankan Domu, anak Sulung keluarga Purba ini. Karena Filmmedan tahu sebelumnya bahwa Boris lama tinggal di Bandung, maka kedekatan Domu yang mau menikah dengan Neny (Indah Permatasari) yang orang Sunda, serasa familiar bagi kami. Ini sudah jauh lebih mantap dibandingkan dulu ia pertama sekali tampil di film sebagai Togar di Toba Dreams (2015) biarpun yang nempel di kepala kami adalah sosok Nelson Manullang di film Guru Guru Gokil (2020). Bukan kali ini saja Boris terekam di kepala kami memerankan sosok serius. karakter Poltak di Rudy Habibie (2016) juga masih melekat kok di ingatan kami. Cocok lah! Apalagi pas adegan nangis! Amang tahe.. watak kali lah memang!

Ekspektasi kami bahwa Lolox bisa selucu Ijul di Gara-Gara Warisan (2022) pupus sudah di film NNS ini. Sosok Gabe justru diperankan Lolox dengan penghayatan yang baik. Filmmedan disuguhi sisi lain karakter seorang pelawak yang tidak disetujui bapaknya untuk melawak. 

Kami berhasil menggeser stigma lucu dari sosok seorang Lolox yang selalu ditampilkan harus lucu seperti di Bodyguard Ugal-Ugalan (2018), Security Ugal-Ugalan (2017) dan Komedi Gokil 2 (2016). Di sini justru kita bisa melihat Lolox malah sukses bikin nangis, alih-alih bikin ketawa.

Berikutnya, Indra Jegel yang memerankan Sahat di NNS. Kalau kami sempat ingat Indra Jegel di My Stupid Boss 2 (2019) sebagai Faisal, kami malah terbawa perasaan melihat sosok Sahat sebagai siampudan di film ini. Indra Jegel tampil meyakinkan dengan memerankan sosok anak paling kecil yang berusaha menyesuaikan diri di tengah dua abangnya yang tidak pernah akur.


 

Akhirnya kami harus mengakui bahwa film Ngeri-Ngeri Sedap ini adalah sebuah film Batak yang sudah lama ditunggu-tunggu. Kami benar-benar merasakan bahwa ini lah film Batak yang kami idam-idamkan sejak dahulu. 

Budaya dan setting Batak tidak menjadi hanya sebuah tempelan, melainkan nyata menjadi dasar cerita berpijak serta mampu tersampaikan sebagai suatu hal yang logis bagi kami para penonton asli Sumatera Utara. 

Bahkan dialog-dialog dalam film ini juga benar-benar kami akui bagus! Hampir semua pesan moral melalui nasehat para pemeran dalam film ini terekam di benak kami walaupun filmnya selesai ditonton! Terngiang betapa kami trenyuh mengingat kata-kata Domu, Dame, dan Sahat yang menyatakan ingin "pulang" ke tempat yang justru bukan rumah mereka yang sebenarnya, yang jauh dari orangtua. Nyelekit memang!

Lantunan musik karya Vicky Sianipar juga mampu membungkus rapi nuansa menonton film ini agar tidak seperti sedang menonton film VCD Batak, tetapi mampu meyakinkan bahwa yang barusan kami tonton adalah film layar lebar yang tampil di bioskop sebagai film nasional.

INI ADALAH FILM INDONESIA TERBAIK YANG PERNAH FILMMEDAN TONTON SEJAUH 2022 HINGGA HARI INI!

Jangan ragu untuk melangkahkan kaki ke bioskop-bioskop terdekat kamu untuk menyaksikan Ngeri-Ngeri Sedap mulai tanggal 2 Juni 2022. Horas! Selamat menikmati! (MG)

Baca selengkapnya
Seperti Sertifikasi Profesi Film, Sertifikasi Digital Marketing Harus Dibayar Tuntas
Update

Seperti Sertifikasi Profesi Film, Sertifikasi Digital Marketing Harus Dibayar Tuntas

Seperti Sertifikasi Profesi Film, Sertifikasi Digital Marketing Harus Dibayar Tuntas



Medan - Filmmedan - Semuanya mungkin sudah pernah mendengar kata "sertifikasi". Kata ajaib yang beberapa waktu terakhir ini digaungkan hampir oleh semua bidang profesi. Tak ketinggalan di bidang perfilman. Di Medan sendiri, profesi perfilman seperti dokumenteris, manajemen lokasi, dan talent koordinator sudah terhasilkan dari kegiatan sertifikasi profesi tahun ini. Malah di studio Movieresto Prime Indonesia, kami sudah punya staff yang bersertifikat profesi manajemen lokasi dan penulis skenario.


Apakah ini cukup untuk membangun ekosistem perfilman di kota Medan?


Belum! Kalau kita intip komponen ekosistem perfilman yang ideal, diantaranya apresiasi, pendidikan, kreasi, produksi, distribusi, ekshibisi, promosi, pusat data dan interasi, serta penonton, ada banyak sekali pe-er yang harus diselesaikan di ekosistem perfilman kota Medan.


Kali ini filmmedan ingin menggelitik pemikiran kita tentang komponen promosi film.


Promosi film ini adalah penghubung antara komponen distribusi dan ekshibisi film, yang hasilnya adalah meningkatkan kualitas komponen penonton. Seberapa penting komponen promosi ini? Wokeh, mari kita perhatikan datanya. Dari Arianna Nielsen Media Research, kita mendapatkan data bahwa dari 10 film dengan biaya promosi paling tinggi, ada Gundala dengan total biaya promosi mencapai Rp82.9 juta dari biaya produksi 50 miliar diikuti dengan Preman Pensiun di angka Rp41 juta dan Koki-koki Cilik 2 hingga Rp39.4 juta.


Apakah dengan membayar sebesar itu, promosi pasti akan berhasil menarik penonton datang ke bioskop?


Untuk ini lah profesi marketing berperan penting! Nah.. dengan kemajuan teknologi dan perubahan perilaku konsumen di era serba digital ini, kegiatan digital marketing adalah strategi yang paling efektif.


Digital marketing adalah kegiatan promosi atau pemasaran produk dengan platform digital atau internet. Tujuan kegiatan ini untuk menarik konsumen dan calon konsumen dengan cepat dan efektif. Ini didukung dari fakta bahwa teknologi digital dan internet di masyarakat luas. Itulah mengapa tidak heran, banyak perusahaan perfilman  memanfaatkan platform digital sebagai media pemasaran.


Contoh penerapan yang paling luar biasa akhir-akhir ini bisa kita lihat adalah viralnya film The Medium garapan sutradara Banjong Pisanthanakun yang berhasil melalui platform media sosial dengan segala gimmick nya yang bikin penasaran. Secara sadar atau tidak sadar strategi digital marketing melalui platform Tik-tok, Instagram, Twitter sempat ramai membicarakan film dengan gaya footage atau pseudo-dokumenter ini. Hasilnya? The Medium memecahkan rekor dan sekarang menjadi film Thailand berpenghasilan kotor tertinggi di box office Indonesia dengan lebih dari 730.000 penonton.


Masih kurang yakin dengan sakti nya profesi bidang Digital Marketing ini?

Ingat film Parasite besutan sutradara Bong Joon-ho? bersama Tom Quinn, bos perusahaan distribusi film NEON berhasil bersaing dengan perusahaan global seperti Sony Pictures, Warner Bros, Universal, Paramount, dan lain-lain. Ini terjadi karena NEON mengaplikasikan strategi pemasaran yang tepat. NEON betul-betul memanfaatkan media internet untuk melakukan customer engagement. Materi-materi pemasaran yang diunggah di berbagai kanal benar-benar membuat konsumen tertarik.


Melalui instagram, mereka membuat feed dengan sangat kekinian dan artsy. Konsumen pun betul-betul dibikin penasaran dengan unggahan berformat puzzle. Kamu bisa tengok unggahan promosi Parasite di akun Instagram @parasitemovie. Trailer film yang diunggah di kanal YouTube pun tak kalah hebat. NEON dan Bong tidak menampilkan spoiler maupun clue di dalam unggahan trailer film.


Melihat bukti-bukti ini, tidak berlebihan kalau filmmedan mengajak lebih serius lagi untuk bicara tentang profesi bidang Digital Marketing di bidang perfilman ini.


Seorang digital marketer berperan penting atas branding produk yang dihasilkan perusahaan. Digital marketer menggunakan channel digital seperti e-mail, website, juga media sosial untuk membangun brand awarness dan berkomunikasi dengan konsumen.


Agar bisa menjadi seorang digital marketer yang profesional, dibutuhkan pemahaman tentang teknik tertentu, khususnya yang terkait dengan search engine optimization (SEO), search engine marketing (SEM), content marketing, e-mail marketing, video marketing, social media ads, dan penggunaan media sosial sebagai sarana pemasaran. Seorang digital marketer juga harus mampu membaca data berupa sasaran iklan dengan tepat, dan memanfaatkan setiap data yang diperoleh tadi untuk pengembangan penjualan yang lebih baik. 


Nah, untuk itu lah agar lebih serius dalam membangun profesi digital marketing ini, dibutuhkan sertifikasi profesi digital marketing. Salah satu Lembaga Sertifikasi Profesi digital marketing yang kita rekomendasikan adalah LSP Teknologi Digital yang bisa dihubungi melalui website dan media sosialnya.


Dengan 36 skema sertifikasi, 300 lebih link Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dan 1000 orang lebih Sumber Daya Manusia yang telah Tersertifikasi, LSP Teknologi Digital berkomitmen untuk meningkatkan keberterimaan Sertifikasi Kompetensi Digital Marketing oleh industri baik di tingkat nasional maupun internasional.





Kita tunggu calon-calon tenaga profesional bidang Digital Marketing yang tersertifikasi untuk membangun ekosistem perfilman di kota Medan ini! (MG) 

Baca selengkapnya